Senin, 30 Maret 2020

SABDA TAMA RAJA KRATON YOGYAKARTA - TANGGAP WABAH CORONA




SABDA TAMA RAJA ING MADYANING SENGKALA  
WABAH VIRUS COVID-19 (CORONA) 
Teks Pidato Lengkap Sultan ‘Sapa Aruh’ Warga DIY Hadapi Corona




Raja Kraton Yogyakarta sekaligus Gubernur  DIY, Sri Sultan HB X menyapa masyarakat Jogja - DIY di Bangsal Kepatihan, Senin (23/3/2020) siang. Sultan mengajak masyarakat untuk eling lan waspada menghadapi pandemi Virus Corona yang sudah sampai di Yogyakarta. Berikut isi lengkap pidato Sri Sultan HB X dalam acara Sapa aruh warga DIY. Pidato disampaikan dalam dua versi bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.



Assalammualaikum wr. wb.
Mugi Gusti Allah tansah paring berkah tumraping kita sadaya,
Para warga Ngayogyakarta, uga anak-anakku kang lagi sinau ing omah,
para sedulur kabeh wae,

Ingsun, Hamengku Buwono, ing dina kang kebak was-was lan tidha-tidha iki, nyuwun para warga sami ndedonga konjuk ing ngarsaning Gusti Allah, mugi kita saged enggal kaparingan pepadhang. Ing tanggap darurat awit saka sumebaring virus corona iki, kudu diadhepi kanthi sabar-tawakal, tulus-ikhlas, pasrah lahir-batin, lan kairing ikhtiyar kang tanpa kendhat. Semono uga, kita, kang kajibah ngesuhi para kawula. “Wong sabar rejekine jembar, Ngalah urip luwih berkah”.

Beda karo prastawa lindhu gedhe taun 2006 kang kasat-mata. Saiki, kang aran virus corona iku yen lumebu ing badan kita ora bisa karasa lan tekane uga ora kanyana-nyana. Kita kabeh kudu bisa njaga sehat, laku prihatin, lan uga wajib ngecakake aturan baku saka sumber resmi pamarentah kang wis diumumke ing masarakat. “Gusti paring dalan kanggo sapa wae gelem ndalan”.

Mula pamundhutku, sing padha eling lan waspada. Eling marang Kang Gawe Agesang kanthi “lampah” ratri, zikir wengi, nyuwun pangaksami lan pangayomane Gusti. Waspada kanthi reresik diri lan lingkungane dewe-dewe. Nek krasa kurang sehat kudu ngerti lan narima yen wajib “mengisolasi diri” pribadi sajrone 14 dina. Jaga pribadi. Jaga keluwarga. Jaga paseduluran. Jaga masarakat. Kanthi jaga, rada ngadohi kumpul-kumpul bebarengan yen pancen ora wigati tenan. Bisa uga kita rumangsa sehat, ning ora ana kang bisa mesthekake yen kita bener sehat. Malah bisa uga nggawa bibit lelara. “Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan”. Pamundhutku mung saklimah: ”Sing ngati-ati!”

Mung kita bisa atur pangajab nyuwun kalis ing bebaya lan tulak-sarik, lan uga bisaa tinebihna saka memala kang luwih gede sanggane tumraping kita manungsa.
Pamujiku: “Sehat, sehat, sehat!”. Mugi Gusti Allah ngijabahi. Rahayu kang pinanggih. Aamiin.
Nuwun. Wassalamualaikum wr. wb.

KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT,
Senin Pon, 23 Maret 2020, 28 Rejeb taun Wawu 1953
HAMENGKU BUWONO

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Assalammualaikum wr. wb.

Semoga kedamaian, keberkahan, dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa menyertai kita semua,
Para warga Yogyakarta, juga anak-anakku yang sedang belajar di rumah,
Saudara-saudaraku semuanya,

SAYA, Hamengku Buwono, pada hari-hari ini yang sarat akan ketidakpastian, yang digambarkan oleh Pujangga Wekasan, Ranggawarsito, dalam Serat Kalatidha, suasana tidha-tidha yang sulit diramal, penuh rasa was-was, saya mohon para warga agar bersama-sama memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar kita diberi petunjuk di jalan lurus-Nya, kembali pada ketenteraman lahir dan batin.

Di masa tanggap darurat bencana virus corona ini, kita harus menghadapinya dengan sikap sabar-tawakal, tulus-ikhlas, pasrah lahir-batin, disertai ikhtiar yang berkelanjutan. Sama seperti juga bagi saya, yang berkewajiban menjadi pamong praja beserta pamomong rakyat Yogyakarta, harus berpegang teguh pada ajaran Jawa: “Wong sabar rejekine jembar, Ngalah urip luwih berkah”.

Suasana dualistis ini ibarat mata uang logam, di balik “bahaya” ada “peluang”, bagaikan pedang bermata dua, bisa untuk “membunuh musibah” atau “bertahan hidup”. Islam mengajarkan, di balik cobaan hari ini selalu ada berkah yang datang kemudian. Kemudahan memang tampak enak, dan bisa membuat orang terlena. Di mana seorang pengemudi mobil mengantuk? Bukan di jalan sulit dan sempit, tetapi di jalan raya yang mulus. Pepatah Jawa mengatakan: “kêsandhung ing râtâ, kêbêntus ing tawang”.

Saudara-saudaraku Warga Yogya semuanya,
BERBEDA dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata. Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya. Saya yakin, karena rakyat Yogyakarta memiliki kadar literasi yang tinggi, tentu bisa membedakan mana yang berita hoax serta mana-mana yang benar dan nalar.
Pepatah Jawa kembali mengatakan: “Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelem ndalan”.
Karena itu, strategi mitigasi bencana non-alam ini, DIY belum menerapkan “lock-down”. Melainkan “calm-down” untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri, agar eling lan waspada. Eling atas Sang Maha Pencipta dengan laku spiritual: “lampah” ratri, zikir malam, mohon pengampunan dan pengayoman-Nya.

Waspada, melalui kebijakan “slow-down”, sedapat mungkin memperlambat merebaknya pandemi penyakit corona, dengan cara reresik diri dan lingkungannya sendirisendiri. Kalau merasa kurang sehat harus memiliki kesadaran dan menerima kalau wajib
“mengisolasi diri” pribadi selama 14 hari sama dengan masa inkubasi penyakitnya.

Jaga diri.Jaga keluarga. Jaga persaudaraan. Jaga masyarakat, dengan memberi jarak aman, dan sedapat mungkin menghindari keramaian jika memang tidak mendesak betul. Bisa jadi kita merasa sehat, tapi sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa kita benar-benar sehat. Malah bisa jadi kita yang membawa bibit penyakit. Karena itu saya mengingatkan pada pepatah Jawa lagi: “Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan”. Pesan saya singkat: ”Waspadalah dan berhati-hatilah Saudara-saudaraku!” Doaku buat seluruh warga: “Sehat, sehat, sehat!”. Semoga Gusti Allah berkenan meridhai-Nya. Aamiin. Terima kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT,
Senin Pon, 23 Maret 2020, 28 Rejeb taun Wawu 1953
HAMENGKU BUWONO



Demikian, maklumat dan sapa Raja Jogja. Semoga bisa menjadi perhatian kita semua. Jogja Istimewa, Jogja Sehat Aman Sentausa Sejahtera.... Aamiin.

Maguwo Banthengan, Banguntapan, Bantul.
30 Maret 2020 M/ 07 Ruwah - Sya'ban 1441 H
Ingsun Sholihin







HIMPUNAN AYAT SYIFA (OBAT/ PENYEMBUHAN) DALAM AL-QUR'AN




HIMPUNAN WIRID/ DOA PERLINDUNGAN & OBAT                      

AYAT-ayat  SYIFA’  (mohon OBAT dan  PERLINDUNGAN dari bencana/ bala’)

=============================================================
=============================================================


Bismillaah.
Dengan senantiasa memohon rrahmat & Berkah  Alloh SWT, di tengan keadaan yang kurang kondusif yakni pandemic wabah Covid-19 atau Corona Virus. Pekenankan kami menyampaikan untaian beberapa ayat Quran, sebagai usaha bathiniah kita dalam Hifdzun Nafs (Menjaga Jiwa/ kehidupan). Kami menyampaikan untainan ayat Quran yang termasuk ayat syifa (obat), berdasar pada firman Alloh SWT :

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al-Isra : 82)

Jadi Al-Quran juga Alloh SWT turunkan sebagai obat/ penawar untuk hamban-Nya. Adapun Untaian Ayat Syifa tersebut adalah sebagai berikut, Silahkan bisa diamalkan dan dibagikan kepada semua muslim  :




أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَٰٱتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ ٱللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ
QOOTILỤHUM YU'ADŻŻIB-HUMULLĀHU BI`AIDĪKUM WA YUKHZIHIM WA YANṢURKUM 'ALAIHIM  WA YASYFI ṢUDỤRO  QAUMIM MU`MINĪN[1]


يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
YĀ AYYUHAN-NĀSU QAD JĀ`ATKUM MAU'IẒATUM MIR RABBIKUM WA SYIFĀ`UL LIMĀ FIṢ-ṢUDỤRI  WA HUDAW WA RAḤMATUL LIL-MU`MINĪN[2]


ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
ṠUMMA KULĪ MING KULLIṠ-ṠAMARĀTI FASLUKĪ SUBULA RABBIKI ŻULULĀ, YAKHRUJU MIM BUṬỤNIHĀ SYARĀBUM MUKHTALIFUN ALWĀNUHỤ FĪHI SYIFĀ`UL LIN-NĀS, INNA FĪ ŻĀLIKA LA`ĀYATAL LIQAUMIY YATAFAKKARỤN[3]

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
WA NUNAZZILU MINAL-QUR`ĀNI MĀ HUWA SYIFĀ`UW WA RAḤMATUL LIL-MU`MINĪNA   WA LĀ YAZĪDUẒ-ẒĀLIMĪNA    ILLĀ KHOSĀRO[4]

ٱلَّذِى خَلَقَنِى فَهُوَ يَهْدِينِ، وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ، وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ.
ALLAŻĪ KHALAQANĪ FA HUWA YAHDĪN, WALLADZI HUWA YUTH'IMUNII WA YASQIIN, WA IDŻĀ MARIḌTU FA HUWA YASYFĪN[5]



وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ
WALAU JA'ALNĀHU QUR`ĀNAN A'JAMIYYAL LAQĀLỤ LAU LĀ FUṢṢILAT ĀYĀTUH, A A'JAMIYYUW WA 'ARABIYY, QUL HUWA  LILLAŻĪNA ĀMANỤ HUDAW WA SYIFĀ`, WALLAŻĪNA LĀ YU`MINỤNA FĪ ĀŻĀNIHIM WAQRUW WA HUWA 'ALAIHIM 'AMĀ, ULĀ`IKA YUNĀDAUNA MIM MAKĀNIM BA'ĪD[6]



Ngayogyakarta, 27  Rojab 1441H/ 22 Maret 2020M
SUMBER²  :  

  • Al-Quran, 
  • Kitab Al-Adzkar (Hadits), 
  • Habib Luthfi Bin Yahya, 
  • PBNU, 
  • KH. Ilyas, 
  • dan Mursyid M. Darowi.
PENYAJI   : Ingsun Sholihin



[1] Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman. (QS  At-Taubah : 14)
[2] Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. ( QS  Yunus : 57 )
[3] kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An-Nahl : 69)
[4] Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al-Isra : 82)
[5] Terjemah Arti: (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, (QS Asy-Syu’ara : 78 – 80)
[6] Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS Fussilat : 44 )
[7] Ijazah dari Rais Aam JATMAN agar terhindar dari penyakit menular dan virus epidemi, utamanya jenis penyakit yang akhir-akhir ini sedang melanda dunia, yakni virus corona. Ijazah tersebut ditulis tangan oleh Sekjen JATMAN, H Mashudi pada 02 Maret 2020 di Makassar.



Minggu, 29 Maret 2020

TARHIB RAMADHAN KITA


7 BEKAL MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

GAMBAR : MUNAJAT  KAUM MUSLIM / SEMUA ORANG DITENGAH PANDEMIC WABAH CORONA VIRUS (COVID-19).  Berbagai cara dilakukan orang untuk menyambut bulan suci Ramadhan sebagai manivestasi kabahagian dan kegembiraan. Namun tidak semua cara-cara yang mereka lakukan benar menurut Syari’at. Karena sebagian mereka hanya melihat Ramadhan sebagai bulan yang meriah, ramai, waktu untuk berkumpul dengan handai tolan, dan lain-lain. Bukan sebagai momen untuk ibadah dan memperbanyak amalan.


Maka tidak jarang kita dapati diantara manusia ada yang sekedar bagaimana ia mempersiapkan uang atau ekonomi supaya bisa makan sahur dan buka dengan enak. Bisa pakai baju baru, al Qur’an baru, rumah baru dengan cat dan warna yang baru, kulkas baru, dan sofa baru. Memang sih itu tidak seluruhnya salah. Tapi hakikat puasa Ramadhan bukan untuk itu. Puasa Ramadhan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan bukan meningkatkan taraf ekonomi. Allah berfirman,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” [QS. Al Baqarah: 183]

Ayat ini dengan gamblang menerangkan akan wajibnya puasa Ramadhan untuk tujuan meningkatkan ketakwaaan. Oleh karenannya apakah yang seharusnya kita persiapkan ?

Semoga beberapa poin berikut bisa membuka wawasan kita tentang hal-hal yang layak kita persiapkan menyambut Ramadhan Mubarak.

Pertama: Berdo’a agar Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Ini kita lakukan agar kita memiliki semangat untuk puasa, shalat tarawih, membaca al qur’an, bersedekah, dan ibadah lainnya. Do’a adalah benteng seorang mukmin. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” [QS. Ghafir: 60]

Berdo’a kita lakukan, karena kita adalah makhluk yang lemah sehingga sangat butuh kepada petolongan Allah. Tidak ada do’a khusus berkaitan dengan masuknya bulan Ramadhan. Adapun do’a yang di panjatkan oleh  kaum muslimin yang berbunyi:

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan” adalah doa ma'tsur dari hadts Nabi yg populer di tengah kita.


Nukilan doa tersebut dalam kitab Al-Adzkar Karya Imam An-Nawawi :

وروينا في حلية الأولياء : عن زياد النميري عن أنس رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال : “اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَانَ”، ورويناه أيضاً في كتاب ابن السني بزيادة.

Artinya, “Kami riwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya, bersumber dari Ziyad An-Numairi dari Anas bin Malik RA. Ia berkata, ‘Rasulullah Saw ketika memasuki bulan Rajab berkata :

اللَّهُمَّ بارِكْ لَنا في رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنا رَمَضَان

Allohumma Baarik lanaa Fii Rojaba wa Sya'baana wa Ballighnaa Romadhoona

Yaa Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Dan Sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.’ Riwayat serupa juga kami riwayatkan dari kitab Ibnus Sinni dengan sedikit tambahan redaksi.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, maka dia akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina” [QS. Ghafir: 60]


Kedua: Memuji Allah dan bersyukur karena bisa bertemu dengan Ramadhan. Pertemuan dengan bulan bulan Ramadhan adalah pertemuan yang sangat indah. Oleh karenanya hendaklah seseorang bersyukur kepada Allah atas nikmat besar ini. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuliah bahwa disunnahkan kepada orang mendapatkan kembali nikmat yang baru dan nampak atau terhindar dari musibah yang dhahir untuk bersujud karena bersyukur kepada Allahatau memuji-Nya”.[Al Adzkar Lin Nawawiy: 297]. Salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada kita adalah dipertemuaknnya kita dengan bulan ketaatan, bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan diberi taufiq. Sehingga sangat wajar bahkan wajib kita bersyukur kepada-Nya atas nikmat ini.

Ketiga: Gembira dan Ceria, Menampakkan kegembiraan dengan keceriaan dan kesenangan yang nampak pada raut muka dan amalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya akan datangnya bulan Ramadhan. Nabi bersabda,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ اِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيْهِ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dimana pada bulan itu Allah mewajibkan puasa. Pada bulan itu dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu jahannam, diikat syaithan-syaithan, di dalam bulan itu ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkan kebaikannnya, maka sungguh ia telah diharamkan dari bulan itu” [HR. Ahmad: (7148) dengan sanad yang Shahih dengan ta’liq Ahmad Muhammad Syakir: 7/7], Nabi memberitahukan hal tersebut ketika datangnya Ramadhan agar para sahabat termotivasi dan bergembira dengan hadirnya Ramadhan.


Keempat: Bersemangat dan memiliki rencana-rencana untuk meraih pahala di bulan Ramadan. Sangat mengherankan jika seseorang memiliki planing yang baik untuk meraih dunianya namun dalam masalah akhirat ia tidak memiliki rencana yang baik. Ini menyebabkan ia tidak maksimal meraih kebaikan dalam ibadahnya, terkhusus di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah melakukan apa yang dapat memberi manfaat kepadamu dan minta pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah”[HR. Muslim (2664)]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah bersemangatlah dalam mentaati Allah dan mengharapkan apa yang ada disisi Allah, lalu minta pertolonganlah kepada Allah dalam mewujudkan hal tersebut, dan jangan merasa lemah artinya jangan malas untuk melaksanakan ketaatan dan dalam meminta pertolongan kepada Allah” [Syarh an Nawawi ‘ala Muslim: 16/215], Sebagai bentuk dari sebuah semangat dan kesungguhan adalah dengan mempersiapkan diri dan merencanakan kegiatan-kegiatan amaliyah Ramadhan sebelum masuknya bulan Ramadhan.

Kelima: Mempersiapkan ilmu sebelum masuk Ramadhan. Ilmu adalah teman dikala sulit, penghibur dikala sedih, dan petunjuk dikala sesat. Maka ilmu adalah modal terbesar dalam persiapan menghadapi Ramadhan. Tanpa ilmu agama, Ramadhan kita tak bermakna apa-apa. Rasulullah ‘alaihish shalatu wassalam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun alaih)

Mengharap pahala adalah satu syarat puasa kita bermakna. Dan mengharap pahala bukanlah sekedar harapan. Namun lebih kepada mendalami ilmu tentang Ramadhan, tentang bagaimana Rasulullah menjalankan ibadah puasa ini. Disinilah pentingnya ilmu agama dari al Qur’an dan Sunnah untuk membimbing setiap amalan kita agar diterima Allah dan berpahala tentunya. Hendaklah seorang muslim membaca kembali buku-buku, artikel website, mendengar ceramah-ceramah tentang Ramadhan. Agar ia bisa mengingat kembali keutamaan, adab, pembatal puasa, hukum-hukum Ramadhan, dan perkara-perkara yang bisa menghilangkan pahala puasanya.

Keenam: Membiasakan diri untuk melakukan amalan sunnah sebelum masuk bulan Ramadhan. Amalan-amalan sunnah akan Allah lipat gandakan dibulan Ramadhan berbeda dengan amalan diluar Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ  إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي
“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata: Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan hawa nafsunya dan makannya karena Aku” (HR. Muslim)

Dengan membiasakan diri melakukan kebikan-kebaikan berupa sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum Ramadhan, maka ini akan memudahkan kita melanggengkannya di bulan Ramadhan. Jangan meremehkan poin ini karena ini juga akan menentukan  bagaimana kesiapan kita menyambut Ramadhan. Oleh karenanya seseorang sebelum masuk Ramadhan membiasakan dirinya untuk membaca al Qur’an, Qiyamul lail, berpuasa, bersedekah, membantu kaum muslimin, dan lain-lain.

Ketujuh: Mempersiapkan sarana-sarana ibadah Ramadhan, Di bulan Ramadhan kita dituntut untuk banyak beribadah. Sehingga tentu butuh sarana-sarana untuk ibadah. Jika sarana-sarana ini tidak diperhatiakan, maka akan menyulitkan kita menjalankan ibadah atau mungkin membuat kita kurang nyaman. Diantaranya yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan buku-buku seputar Ramadhan untuk menambah wawasan kita, membersihkan dan menata rumah agar nyaman untuk shalat sunnah, membaca al qur’an, dan belajar. Menyiapkan kurma untuk persipan beberapa hari atau mungkin satu bulan untuk sahur dan berbuka.

Bagi masyarakat mereka bisa membenahi masjid sebagai pusat kegiatan ibadah. Mengecek mic, pengeras suara, membersihkan karpet, memperbaiki dan menambah fasilitas penyejuk seperti kipas angin dan AC. Maka ini semua adalah kegiatan yang menunjukkan kesungguhan dan kebahagian kita dengan bulan Ramadhan selain poin-poin yang telah kami sebutkan sebelumnya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin.

06 Sya'ban 1441 H/ 29 Maret 2020 M
Maguwo Banthengan, Banguntapan, Bantul, D.I.Yogyakarta
Salam, Ingsun Sholihin,


Senin, 01 April 2019



TRADISI NYADRAN AGENG TAHUNAN DI KAMPUNG MALANGAN


Yogyakarta – Warga RW 13 kampung Malangan, Giwangan menggelar kegiatan Nyadran Ageng di Masjid Nurul Huda Malangan pada hari Ahad (06/05) lalu.  Agenda Nyadran Ageng ini rutin dilakukan setiap tanggal 20 bulan Ruwah (Sya’ban) tiap tahunannya, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Agenda Nyadran kali ini ini dihadiri sedikitnya 150 - 200 warga, baik dari warga Malangan ataupun warga sekitar seperti kampung Sanggrahan, Donoloyo, Mahesan, Dladan, dan Nglebeng. Semua yang hadir adalah para ahli waris makam malangan sisi utara dan selatan. “Alhamdulillah agenda nyadran tahun ini makin banyak yang hadir. Menurut laporan teman-teman lebih dari 150 warga yang hadir, baik dari warga malangan sendiri maupun warga atau ahli waris kampung – kampung sekitar. Kami berharap ke depan akan lebih banyak dan  meriah lagi.” Tutur Muhammad Hakam selaku ketua RW 13 Kampung Malangan.
Tradisi Nyadran Ageng di Malangan ini juga berfungsi sebagai wadah silaturahmi antar ahli waris masyarakat Malangan dengan ahli waris dari masyarakat kampung sekitar. Agenda Nyadran Ageng ini sudah berjalan lebih dari setengah Abad, dan tetap lestari sampai sekarang. “Seingat saya Tradisi nyadran  ini sudah ada kisaran tahun 1950-an, sebelum saya lahir, dan saat saya masih kecil Tradisi Nyadran-an ini sudah berjalan baik, dulu tempatnya masih di makam namun kemudian dipindah di masjid”, papar M.Hakam. Agenda Nyadran Ageng ini juga didukung dan dihadiri pejabat pemerintahan desa setempat, seperti Lurah Giwangan, Kasi Trantib Kelurahan, dan LPMK kelurahan Giwangan. Bahkan Lurah Giwangan sempat memberikan dukungan, sambutan, dan apresiasi yang luar biasa atas agenda Nyadran tahunan ini. “Kami dari unsur pemerintahan pada tahun ini memasukkan agenda Nyadran semacam ini dalam anggaran APBD kami, tiap kampung yang mengadakan Sadranan akan menerima dana oprasional sebesar 2 juta rupiah”.Jelas Drs. Suradi, selaku Lurah Kelurahan Giwangan. “Walau dana ini tidak seberapa, semoga ini menjadi salah satu faktor pendukung lestarinya tradisi nyadran ini”, tandasnya.


Adapun rangkainan agenda Nyadran Ageng ini, berupa Pembacaan Rotib Tahlil dan do’a oleh ‘Mbah Kaum’ atau Rois yakni K.H. Muhammad Duri Mz, bersama – sama melaksanakan Birrul walidain mendoakan para leluhur yang berada di makam Malangan sisi utara dan selatan. KH.M.Duri menjelaskan, “Ini juga sebagai wujud syukur atas nikmat karunia Tuhan (Alloh SWT) dan juga sebagai wujud Birrul Walidain (berbakti) kepada orang tua maupun leluhur yang telah tiada”.  Selesai Tahlil, acara disambung dengan Ta’lim atau  Pengajian. Kali ini yang berindak sebagai pembicara adalah K.H. Drs. Hedri Sutopo dari Krapyak Yogyakarta. Dalam pengajian tersebut, dijelaskan bahwa Negara Indonesia akan tetap ada dan eksis bilamana warganya atau rakyatnya masih dan tetap melakukan tradisi Nyadran semacam ini.“NKRI akan tetap ada, aman, tentram, maju, dan sejahtera bilamana rakyatnya tetap menjaga tradisi semacam ini. Mengapa demikian..??? karena insyaAlloh warga atau rakyat indonesia yang menggelar Nyadran-an tidak akan pernah membahas pergantian presiden, kudeta, maupun mengganti Republik Indonesia menjadi bentuk pemerintahan lain”, papar Hendri Sutopo. “Malah di dalam majlis Nyadran ini kita senantiasa berdoa untuk keselamatan, kebaikan, dan kejayaan  Negara Indonesia tercinta”, sambung Hendri. Dan memang demikian nyata adanya, karena di akhir sesi pengajian langsung ditutup dengan doa untuk kebaikan bersama dan kebaikan Bangsa. (Isho)

Jumat, 29 Maret 2019



Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar Shalawat Nariyah, Tuduhan Syirik, dan Ilmu Sharaf Dasar


Popularitas shalawat Nariyah di kalangan umat Islam di Nusantara memang tak terbantahkan. Namun, apakah ia lantas bersih dari para penolaknya? Ternyata tidak. Sebuah fenomena yang sesungguhnya sangat lumrah dalam kehidupan beragama.

Lewat beragam sudut, beberapa orang melancarkan vonis bahwa pengamalan shalawat Nariyah termasuk melenceng dari ajaran Rasulullah alias bid’ah. Sebagian yang lain mengahakimi secara lebih ekstrem: syirik atau menyekutukan Allah.

Vonis bid’ah umumnya berangkat dari alasan tak ditemukannya hadits atau ayat spesifik tentang shalawat Nariyah. Sementara tuduhan syirik berasal dari analisa terjemahan atas redaksi shalawat yang dinilai mengandung unsur kemusyrikan. Yang terakhir ini menarik, karena tuduhan “sekejam” itu ternyata justru muncul hanya dari analisa kebahasaan. Benarkah demikian?

Kita simak dulu redaksi shalawat Nariyah secara lengkap sebagai berikut:

اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Perhatian para penuduh shalat Nariyah mengandung kesyirikan umumnya tertuju pada empat kalimat berurutan di bawah ini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Kalimat-kalimat itu pun dirinci lalu diterjemahkan begini:

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ

Artinya: "Segala ikatan dan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad."

وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

Artinya: "Segala bencana bisa tersingkap dengan adanya Nabi Muhammad."

وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ

Artinya: "Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad."

وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Artinya: "Segala keinginan bisa didapatkan dengan adanya Nabi Muhammad."

Menurut para penuduh itu, empat kalimat tersebut sarat kesyirikan karena secara terjemahan mengandung pengakuan bahwa Nabi Muhammad memiliki kemampuan yang hanya dimiliki Allah, seperti bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa hanyalah Allah.

Bantahan dari Ilmu Sharaf dan Nahwu Dasar

Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Jika shalawat Nariyah dianggap syirik, ada beberapa kemungkinan. Pertama, para ulama pengamal shalawat itu tak mengerti tentang prinsip-prinsip tauhid. Ini tentu mustahil karena mereka besar justru karena keteguhan dan keluasan ilmu mereka terhadap dasar-dasar ajaran Islam. Kedua, pengarang shalawat Nariyah, termasuk para pengikutnya, ceroboh dalam mencermati redaksi tersebut sehingga terjerumus kepada kesyirikan. Kemungkinan ini juga sangat kecil karena persoalan bahasa adalah perkara teknis yang tentu sudah dikuasai oleh mereka yang sudah menyandang reputasi kelilmuan dan karya yang tak biasa. Ketiga, para penuduhlah yang justru ceroboh dalam menghakimi, tanpa mencermati secara seksama dalil shalawat secara umum, termasuk juga aspek redaksional dari shalawat Nariyah.

Dilihat dari segi ilmu nahwu, empat kalimat di atas merupakan shilah dari kata sambung (isim maushul) الذي yang berposisi sebagai na‘at atau menyifati kata محمّد.

Untuk menjernihkan persoalan, mari kita cermati satu per satu kalimat tersebut.

تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Pertama, تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ .

Dalam kacamata ilmu sharaf, kata تَنْحَلُّ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْحَلَّ. Bentuk ini mengikuti wazan انْفَعَلَ yang memiliki fungsi/faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ). Demikian penjelasan yang kita dapatkan bila kita membuka kitab sharaf dasar, al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah, karya Syekh Muhammad Ma’shum bin ‘Ali.

Contoh:

كَسَرْتُ الزُّجَاجَ فَانْكَسَرَ

“Saya memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu.” Dengan bahasa lain, kaca itu pecah (انْكَسَر) karena dampak dari tindakan subjek “saya” yang memecahkan.

Contoh lain:

حَلّ اللهُ  العُقَدَ فَانْحَلَّتْ

“Allah telah melepas beberapa ikatan (kesulitan) maka lepaslah ikatan itu.” Dengan bahasa lain, ikatan-ikatan itu lepas karena Allahlah yang melepaskannya.

Di sini kita mencermati bahwa wazan انْفَعَلَ mengandaikan adanya “pelaku tersembunyi” karena ia sekadar ekspresi dampak atau kibat dari pekerjaan sebelumnya.

Kalau تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ dimaknai bahwa secara mutlak Nabi Muhammad melepas ikatan-ikatan itu tentu adalah kesimpulan yang keliru, karena tambahan bihi di sini menunjukkan pengertian perantara (wasilah). Pelaku tersembunyinya (dan hakikinya) tetaplah Allah—sebagaimana faedah لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ.

Hal ini mengingatkan kita pada kalimat doa:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي

“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah ikatan/kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

Kedua, تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ

Senada dengan penjelasan di atas, تَنْفَرِجُ merupakan fi’il mudlari‘ dari kata انْفَرَجَ, yang juga mengikuti wazan انْفَعَلَ. Faedahnya pun sama لمُطَاوَعَةِ فَعَلَ (dampak dari فَعَلَ).

Ketika dikatakan تَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ maka dapat diandaikan bahwa فَرَجَ اللهُ الكُرَبَ فَانْفَرَجَ. Dengan demikian, Allah-lah yang membuka atau menyingkap bencana/kesusahan, bukan Nabi Muhammad.

Ketiga, تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ

Kata تُقْضَى adalah fi’il mudlari‘ dalam bentuk pasif (mabni majhûl). Dalam ilmu nahwu, fi’il mabni majhul tak menyebutkan fa’il karena dianggap sudah diketahui atau sengaja disembunyikan. Kata الْحَوَائِجُ menjadi naibul fa’il (pengganti fa’il). Ini mirip ketika kita mengatakan “anjing dipukul” maka kita bisa mengandaikan adanya pelaku pemukulan yang sedang disamarkan.

Dengan demikian kita bisa mengandaikan kalimat lebih lengkap dari susunan tersebut.

يَقْضِي اللهُ الْحَوَائِجَ

“Allah akan mengabulkan kebutuhan-kebutuhan.”

Keempat, تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ

Penjelasan ini juga nyaris sama dengan kasus تُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ. Singkatnya, Nabi Muhammad bukan secara mutlak memiliki kemampuan memberikan keinginan-keinginan karena Allah-lah yang melakukan hal itu yang dalam kalimat tersebut disembunyikan. Fa’il tidak disebutkan karena dianggap sudah diketahui.

Alhasil, dapat dipahami bahwa tuduhan syirik atas kalimat-kalimat itu sesungguhnya keliru. Sebab, kemampuan melepas kesulitan, menghilangkan bencana/kesusahan, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan-keinginan secara mutlak hanya dimiliki Allah. Dan ini pula yang dimaksudkan pengarang shalawat Nariyah, dengan susunan redaksi shalawat yang tidak sembrono. Hanya saja, dalam redaksi shalawat Nariyah tersebut diimbuhkan kata bihi yang berarti melalui perantara Rasulullah, sebagai bentuk tawassul.

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia memang memiliki logika khas masing-masing. Karena itu analisa redaksi Arab tanpa meneliti struktur bakunya bisa menjerumuskan kepada pemahaman yang keliru. Lebih terjerumus lagi, bila seseorang membuat telaah, apalagi penilaian, hanya dengan modal teks terjemahan. Wallahu a’lam.

Sumber

Rabu, 20 Juni 2018


AKULTURASI BUDAYA

Dalam penggalan Video singkat ini, menampilkan Akulturasi ARAB dengan JAWA, maupun sebaliknya. Bisa juga dikatakan berkolaborasi. Dua unsur yang baik dan memiliki karakter masing-masing bergabung melebur menyatu selaras menghasilkan product yang tak kalah baiknya.

Tampak semua cukup bergembira, baik para pelaku seni dan penikmatnya. sekelumit pengalaman dan fakta ini menandakan seni dapat menyentuh semua lapisan khalayak masyarakat tanpa pandang status, pangkat, maupun golongan. Terbukti pula di sini Agama Islam kita sangat Luwes (Rohmatan Lil 'alamiin), mampu membaur merangkul dengan unsur apapun selama tidak ada nuktah syirik/ penyekutuan terhadap Alloh SWT. Agama islam pun mampu menjadi perekat hati masyarakat. Mari kita tengok ke belakang, bagaimana para wali (Walisanga) mampu mengislamkan tanah jawa maupun Nusantara dengan sentuhan seni dan budaya. Seni identik dengan estetika dan keindahan, selaras dengan kalam hadits Nabi :

INNALLOOHA JAMIILUN YUHIBBUL JAMAALA.

Sesungguhnya Alloh SWT Dzat yang Maha Indah, Dan Ia (Alloh SWT) sangat menyukai keindahan

Begitulah, salah satu prinsip agama Islam kita. Tentu dengan pegangan hadits ini kita berharap para pemeluk Agama Islam (muslim) menjadi agen - agen dan sosok duta yang turut berkepribadian Rohmatan Lil 'Alamiin pula, menjunjung tinggi etika kesopanan, berakhlak mulia, berbudi luhur, penuh toleransi, ramah, cinta damai dann tebar kasih sayang kepada semua makhluk-Nya. InsyaAlloh Nusantara Jaya, NKRI benar - benar Merdeka, Indonesia Aman Sejahtera Sentausa, dan Budhaya Nusantara khususnya Jawa akan senantiasa kondhang kaloka kumandang mengudara seantero Jagad Mayapada. Aamiin Yaa Mujiibassaa-iliin.


MARI SIMAK VIDEONYA....



Jumat, 23 Maret 2018

BIDAYATUL HIDAYAH

AWAL PERMULAAN (TURUNNYA) PETUNJUK HIDAYAH 

Ini adalah sepenggal kisah seorang hamba Alloh SWT yang mendapat pelajaran dan hidayah dari sebuah peristiwa yang ia alami. Peristiwa tersebut membuatnya berubah haluan menjadi hamba yang lenih baik dari sebelumnya. Tulisan kali ini disajikan dalam Bahasa Inggris, tidak ada maksud sok kebarat - baratan. Hanya sekedar sebagai variasi konten (isi) blog semata. Semoga bermanfaat.


My Unforgotten Experience in Ramadhan 2000 – 2001 

Childhood is happinest time for kids. Al off kids are likes that time. They can be happy whit their play, they also can be sad with their play. That moment (time) the kids are  free to do their ekspression. Every time in childhood can make fun, can make sad, can make snile, can make cry, can make every difficult  be  easy, can make all activity full of smile. Childhood also can make experience, can make unforgotten experience, can make funny experience or funny story… it si complette.

Remembered about my experience in childhood, unforgotten experience. Before it can I to introduce my self. My name is Iin Sholihin, I’m  a male, I was born in Yogyakarta  on September  1989. I lift in Malangan, the best village for me. In this village I got manykind of knowledge and experience. Remembered in Ramadan 2001, long times ago. We are know, that islam had five pillars :
  • Syahadah,  A short statement declaring the greatness and onaness of God
  • Sholat, Prayer that is offered five times a day
  • Shoum, the fast thats takes place during ramadan
  • Zakat,  a religius tax used for the poor, the sick, and the others less privileged in the islamic community
  • Hajj, the pilgrimage to the holy city of Mecca

We know, the tird pillars reference an also importan muslim holiday. That is shoum, when we did it in Ramadan . Ramadan is the ninth  month of islamic calendar, this month last 29 – 30  days. (remembered) in  Ramadan 2001 I was 12 years old, I expected to observe the fast in the noon, and prayed tarowih in the night, and also  wake up to post midnight meal (sahur). They are  my  daily activity in ramadan. First day in Ramadan , I felt heavy to fast. I felt my body  was pliant and very-very hungry and thirsty. My skull was sweat and my stomach was string because hungry. On this day I only could sit and sleep because my body was pliant. I prayed dhuhur and asar with weak, do not hat spirit and power.

Still on firs day of ramadan,  thought I feel hungry, thirsthy, pliant and also weak, I do not vain my fast, I kept my fast. Until  time to break the fast, I got my power. I  was happy and smile full, I got the fresh for  it. Afther that I prayed  maghrib together  with my  friends in Nurul Huda mosque.

Not only that,  one moment when I  not  forgot it in the ramadan (unforgotten moment). When I prayed Tarowih with my friends in musholla Nurul Huda ( in front of Nurul Huda mosque).  That incident was happened in midle of ramadan  ( fifteenth or sixteenth day of ramadan). That time 07.00 P.M. We are prayed Isya in musolla, mr. Sukidi as command / imam and speaker (da'i). Afther prayed,  we listened islamic lesson ( kultum). We listwned seriously, but at last season in  “kultum” we was commotion, mr.Sukidi as speaker as not respected, he felt  it's normal. He think commontion is habbitualy of kids. Because it we were enjoyed. Time  07.20 P.M, we prayed tarowih.

In the midle of prayed tarowih , the situation not condusif, I and my friends  commotioned... so the musolla  was crowded.  Mr. Sukidi responed it, he gave  advice to I and my friends . He gave intruction for some kids, included I and Cholis (my old friend) to be quite. The commotion happened again and again. Believe it or not , the provocator ( it's my opinion) is Cholis, not me. Mr.Sukidi saw to me, he held and pulled mt hand and drived me to toilet, I criyed and streamed, he nevermind about my cry. He put in me  to the toilet and he locked toilet. I only could criyed and streamed.. pray tarowih was advanced. A moment afther that, my friend ( name is Opik) gone to toilet and opened the dor (the door another, couse that toilet had two doors, opened from out). I could exited from  it and I said thanks to he. Afther it Opik gone to tarowih, and I gone  back to my home.

Afther this incident, I not came in musholla to tarowih during 3 -5 days, because I still ashamed if I met my friends and mr.Sukidi.. That moment I thought and quested  to my self: “ Why mr. Sukidi gove panishment to me?  not  to my friends another?. Did I make trouble in that incident/ moment?, in fact, my friend (Cholish) also make trouble in that incident ….”.  ( I don't know) . Gradually I felt It's no problem...... It's the lesson for me to be better ... to be the best personaly.

That is my story, my experience, also my funny story when I can not forget it until to day. Now I can think, that incident can makes me to think alot to do something. I must think moderat, I must can make a problem solving if  I  meets  some of problem.. All of incident always bring a lesson, That's right ???